Gagal

Maaf Anda telah memasukkan alamat email yang tidak valid !

Kisah Inspiratif: Analogi Buah

Copy to clipboard copy-link
Kisah Inspiratif: Analogi Buah
Sobat Souja mari kita simak analogi buah-buahan yang bisa dijadikan sebagai bahan perenungan dan evaluasi diri agar menjadi insan yang lebih baik lagi. Berikut ini. 


Jadilah jagung, bukan jambu monyet
Jagung membalut biji-bijinya dengan kulit, padahal bijinya sangat banyak dan bisa dikonsumsi satu persatu. Berbanding terbalik dengan jagung, jambu monyet memamerkan biji yang hanya satu-satunya padahal tidak bisa dikonsumsi. Makna dari analogi ini adalah senantiasa rendah hati dan jangan congkak dan pamer karena di atasnya langit masih ada langit. 


Jadilah pohon pisang
Sebelum sebuah pohon pisang menghasilkan buah yang mulai matang; atau sebelum pisang itu ditebang oleh pemiliknya karena suda tua, maka pohon itu selalu memunculkan tunas-tunas pohon pisang lain. Kita tahu, pohon pisang termasuk tumbuhan unik. Ia hanya menghasilkan buah sekali saja. Kalau buahnya sudah diambil, otomatis pohon itu akan mati. Ternyata, sebelum pohon itu mati, ia sudah mempersiapkan generasi penerus sehingga tidak ada istilah lost generation.  Semestinya, hidup kita seperti pohon pisang itu. Selalu ada untuk kepuasan dan kebahagiaan dan kebaikan orang lain..


Jadilah durian, bukan kedondong
Secara fisik, durian berkulit tajam sehingga perlu kehati-hatian saat mengambilnya dari pohon, akan tetapi di balik itu semua rupanya buahnya berkulit tebal, sangat lezat dan rasanya manis. Di sisi lain, kedondong tampak luarnya sangat mulus namun buahnya berasa asam dan bijinya berduri. Inspirasi yang bisa diambil adalah jangan menilai sesuatu atau seseorang dari penampilan luarnya, karena terkadang apa yang kita saksikan tidak sesuai dengan kenyataan. 


Jadilah bengkuang
Bengkuang, walaupun hidupnya dalam kompos sampah, tetapi umbi isinya tetap putih bersih. Sifat bengkuang ini memberikan petunjuk bahwa kita harus tetap menjaga hati agar tetap suci bersih, tidak sampai ternodai oleh hal-hal buruk yang ada di sekeliling kita. Seringkali, kita tidak bisa menjaga hati untuk selalu tenang dalam mengatasi hiruk pikuk kehidupan.

Elin Septianingsih

Elin Septianingsih

Artikel Terkait

Rekomendasi Artikel